Jakarta, Nusantarabarunews.com – Dunia kembali memperingati Hari Internasional Menentang Perdagangan Manusia, sebuah momentum global untuk mengingatkan bahwa praktik keji ini masih menjadi ancaman serius, terutama bagi kaum perempuan.
Perdagangan manusia tidak hanya merampas kebebasan individu, tetapi juga menjerat perempuan dalam lingkaran eksploitasi seksual, perbudakan modern, dan kerja paksa. Jakarta, (30/07/2025).
Berbagai lembaga internasional mencatat bahwa perempuan dan anak perempuan merupakan kelompok paling rentan menjadi korban, disebabkan oleh kemiskinan, diskriminasi gender, serta minimnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan yang layak.
Di Indonesia, peringatan ini diisi dengan kampanye publik, seminar, dan aksi solidaritas yang menekankan pentingnya perlindungan hukum dan pemberdayaan perempuan. Aktivis perempuan menilai bahwa perdagangan manusia bukan sekadar persoalan kriminalitas, melainkan pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia (HAM) yang menuntut perhatian serius dari pemerintah dan masyarakat.
Sri Rejeki, SH, aktivis perempuan dari Federasi Serikat Buruh Kimia, Industri Umum, Farmasi dan Kesehatan (KIKES), menegaskan pentingnya langkah konkret dalam melawan praktik tersebut.
“Perdagangan manusia adalah bentuk paling kejam dari pelanggaran hak asasi. Perempuan yang menjadi korban kehilangan kebebasan, martabat, dan masa depan mereka. Kita harus memastikan setiap perempuan memiliki akses yang sama terhadap pendidikan, pekerjaan, dan perlindungan hukum. Kesetaraan bukan pilihan, melainkan hak yang melekat pada setiap manusia,” ujarnya.
Salah satu kasus yang sempat mengguncang publik adalah kasus perdagangan manusia yang melibatkan mahasiswa Indonesia pada tahun 2024, di mana ribuan mahasiswa dari 33 universitas menjadi korban. Mereka dijanjikan pekerjaan atau kesempatan belajar di luar negeri, namun justru dieksploitasi secara ekonomi dan digital. Kasus ini membuktikan bahwa perdagangan manusia tidak hanya menyasar kelompok miskin, tetapi juga kalangan terdidik.
Para pengamat mencatat, praktik perdagangan manusia kini semakin kompleks—meliputi prostitusi, kerja paksa, hingga eksploitasi digital—dan sulit diberantas karena melibatkan jaringan lintas negara. Banyak korban bahkan tidak menyadari bahwa mereka telah menjadi bagian dari skema perdagangan manusia akibat bujuk rayu dan janji palsu pekerjaan.
Peringatan tahun ini menjadi pengingat bahwa perjuangan melawan perdagangan manusia masih panjang. Dengan suara lantang dari aktivis seperti Sri Rejeki, SH, diharapkan kesadaran masyarakat semakin meningkat dan langkah nyata untuk melindungi perempuan dari praktik keji ini semakin kuat.(**)




